
MIPA PLOES PRIVAT...
GET THE CARE TEACHER...
PROGRAM SUKSES UN ( UJIAN NASIONAL )
LES PRIVAT MIPA PLOES
GET THE CARE TEACHER...
UNTUK SD-SMP-SMA
- MATEMATIKA
- FISIKA
- KIMIA
- BIOLOGI
- BAHASA INGGRIS
GURU KE RUMAH SE-JAKARTA, BERPENGALAMAN DARI UNJ ( UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA ), PENGAJARAN MUDAH DAN TERUKUR, HEMAT DAN TERJANGKAU.
HUBUNGI SEGERA :
SUCI KUSUMA ( 0856-93-191-778 // 021-944-1414-9)
Itu logis, sebab dalam les private, pelajaran/ modus diberikan secara sistimatis praktis.Disamping itu tingkat konsentrasi tinggi dan tercakup/ tidak terpecah karena jumlah peserta kursus.Dengan demikian perhatian guru les private hanya - terfokus hanya kepda satu orang atau dua orang. Sedangkan kelas- lebih dari 10 orang atau lebih , bahkan sampai lebih dari 25 orang.
Dengan demikian perhatian guru harus juga diberikan merata kepada setiap murid.
Sekolah memiliki sistim lain dalam memberikan pelajaran, dimana kurikulum sudah ditentukan per-tahun.
Kalau disimak, maka kursus pribadi (private course) atau kursus bimbingan masal, hampir pasti hanya menangani pengetahuan tingkat metodologi praktis, hal yang sifatnya konseptual hanya disentuh sebatas maksud memperlihatkan kapan metode terkait digunakan dan apa lebih-kurang yang ingin diperoleh/dicapai dengan menggunakan metode tersebut
kalau lebih cepat pelajaran di sekolah berarti cuma mengulang dong.kalau lebih cepat di les privat baik massal maupun pribadi dengan tujuan mempercepat pemahaman materi saat guru memberikannya di sekolahjadi nggak rugi kan ikut les privat
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20070914074832AABmlQA
Mengapa pelajaran yang di pelajari dalam les privat lebih cepat dari pada pelajaran di sekolah?
Prof. Masatoshi Koshiba (Jepang) adalah fisikawan peraih nobel fisika yang memiliki latar belakang kehidupan yang unik. Ketika Koshiba masih belajar di sekolah menengah, seorang gurunya mengatakan bahwa Koshiba tidak mungkin bisa belajar fisika karena ia selalu mendapat nilai merah. Sedangkan Prof. Tsui adalah orang China ndeso dan kedua orang tuanya juga buta huruf. Desa kelahirannya selalu dilanda bencana kelaparan, banjir dan peperangan. Lalu mengapa nasib yang tidak menguntungkan tersebut membuahkan kesuksesan bagi mereka ? Tulisan ini Guru Muda tujukan bagi adik-adik pelajar sekolah menengah yang merasa kemampuan otaknya pas-pasan, apalagi sampai sering mendapat nilai merah; juga bagi kita yang berasal dari keluarga miskin, apalagi orangtua buta huruf alias tidak bisa membaca dan menulis. Selamat membaca sambil merenung… semoga kita termotivasi untuk mengikuti jejak mereka. Sukses adalah milik kita semua, mengapa koshiba dan Tsui bisa, kita tidak ? khan sama-sama punya kepala, kaki dan tangan, darah sama-sama merah. Bedanya diriku agak hitam, dirimu mungkin agak putih dan eyang Koshiba dan Tsui kulitnya putih + agak sipit
Eyang Masatoshi Koshiba lahir di kota Toyohashi, Jepang, pada tanggal 19 September 1926. Pada mulanya ia bercita-cita masuk militer mengikuti jejak ayahnya atau menjadi musisi, karena ia sangat menyukai musik. Cita-citanya masuk militer gagal karena sebelum mengikuti tes ia menderita sakit Polio. Tetapi mengapa ia memilih untuk menekuni ilmu fisika, bukannya menjadi musisi ? seandainya Koshiba di Indonesia, mungkin ia akan memilih menjadi musisi, khan jadi terkenal dan punya banyak uang, tiap hari konser + punya sekampung fans… Koshiba memilih menjadi fisikawan, karena gurunya mengatakan bahwa ia tidak mungkin bisa belajar fisika. nilai raportnya penuh dengan nilai-nilai berwarna merah karena merasa diangap rendah oleh gurunya, Koshiba lalu melepaskan keinginannya menjadi musisi dan memutuskan untuk menekuni ilmu fisika di Universitas Tokyo. Lagi-lagi, sial menimpa dirinya… nilai hasil belajar yang kurang memuaskan selalu menyertai langkah hidupnya ketika belajar di Universitas Tokyo. Koshiba tetap ngotot untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi karena ia yakin bisa menguasai ilmu fisika. Padahal nilainya sering jeblok ketika kuliah di jepang, Koshiba juga sambil bekerja untuk meringankan beban hidup keluarganya. Setelah menamatkan kuliah di Universitas Tokyo, ia nekat pergi ke Amerika Serikat hanya untuk belajar fisika. Nekat banget nih orang, banyak nilai merah tapi masih ngotot… sebagaimana tradisi yang masih berlanjut hingga sekarang, dia juga diharuskan membawa surat rekomendasi dari salah satu dosennya di Tokyo. Tahukah dirimu apa yang ditulis dosen tersebut ? “nilainya selalu kurang memuaskan…. Tetapi dia tidak bodoh….” Dengan semangat yang menggebu-gebu dan penuh perjoeangan + kerja keras yang luar biasa, Koshiba berhasil memperoleh gelar Doktor di University of Rochester. Mengerikan…. Sering mendapat nilai merah tetapi berhasil menjadi Doktor… fisika lagi…
Setelah berjoeang di Amerika serikat, Koshiba kembali ke Jepang dan setelah beberapa tahun mengajar dan melakukan riset, ia diangkat menjadi Profesor di Universitas Tokyo… Dahulu kala, di kampus tersebut ia sering mendapat nilai yang kurang memuaskan… ternyata ia menjadi profesor di tempat yang sama… aneh bin ajaib. Rupanya gelar profesor belum cukup bagi Koshiba. Mungkin beliau masih merasa sakit hati dengan ucapan gurunya dan mungkin juga dosennya, sehingga ia tetap bekerja keras dan tetap dalam perdjoeangan melakukan riset… Puncak prestasinya pun tiba… ia dinobatkan menjadi fisikawan peraih Nobel Fisika pada tahun 2002, penghargaan yang sangat bergengsi bagi para fisikawan di seluruh pelosok bumi. Nobel Fisika adalah hadiah Prof. Koshiba yang paling indah untuk guru dan dosennya yang pernah menganggap dirinya tidak mampu… mengapa ia bisa kita tidak ?
Sumber : Korun's Blog (26 september 2008)
Kisah Profesor Masatoshi Koshiba