| 0 komentar ]

Tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Pertanyaannya, siapkah orang tua (yang adalah pendidik di rumah) dan guru menghadapi tantangan ini ? Hal lain adalah guru selalu bertanya apakah saya menjadi guru yang baik ? Apa itu guru yang baik ? Bagaimana menjadi guru yang baik ? Guru bukanlah pekerjaan, tetapi profesi. Hal ini juga telah didukung undang-undang negeri kita. Karena profesi ini mulia, maka adalah kewajiban kita semua untuk mengembangkan secara maksimal potensi kita.

Guru Efektif adalah Konselor yang Baik :
Fakta yang menarik adalah bahwa guru yang baik ternyata harus menjadi konselor yang baik bagi murid-muridnya. Itu sebabnya seorang guru harus belajar mendalami konseling agar dia sukses. Dalam tulisan “Good Teaching” oleh Theodore R. Sizer, mantan Pembantu Rektor bidang Akademik di Harvard University College of Education mengatakan bahwa guru hendaknya menjadi guru profesional yaitu mengetahui hal-hal sederhana soal konseling, termasuk dalam hal-hal yang kecil sehingga murid bertumbuh.

Ada beberapa poin yang dia sampaikan:
1. Mengenal nama dari siswa dan panggil siswa dengan namanya.

2. Memberikan salam kepada siswa dan rekan kerja dengan hangat dan ramah.

3. Pergi menghadiri acara-acara siswa di luar kelas, misalnya ibadah, pertandingan, dan lain sebagainya.

4. Mengingat sesuatu yang pernah digumuli oleh siswa sebelumnya. Contohnya: apakah mamamu sudah keluar rumah sakit?

5.Hindari bersifat sarkastik dalam memberikan komentar atas kebodohan atau kenakalan yang dilakukan seorang siswa. Ini akan melukai hati siswa.

6. Jangan pernah toleransi dengan masalah SARA, termasuk lelucon-lelucon masalah SARA.

7. Ingat pepatah yang diberikan orang tua kita : jika kita tidak bisa menyampaikan atau melihat sesuatu yang baik tentang seseorang, jangan katakan apapun.

8. Katakan suatu kebenaran atau teguran secara pribadi. Contohnya: Ayu, saya sebenarnya curiga kamu menyontek..., Amir, kamu kurang belajar dan malas sepertinya... Hasan ,kamu suka mengganggu...)

9. Selalu mendorong bahwa kemampuan siswa lebih dari yang merasa dimiliki siswa.

10. Jadilah guru yang positif, namun hati-hati bila selalu memuji pekerjaan baiknya. Tidak ada seorang pun belajar lebih cepat ketika dia merasa bahwa dia merasa berhasil.

11. Pertunjukkan persahabatan dan jadilah jujur dan obyektif dalam penilaian terhadap murid-murid yang kita juluki “nakal” atau mengganggu.

12. Menjadi teman dan sahabat siswa, namun jaga jarak juga.

13. Jangan pernah menyerah dengan siswa kita, dan jangan menjuluki mereka secara permanen, misalnya: si bodoh, si cerewet, si pemalu, dsb.

14. Setiap kali memberikan pedoman dan aturan, sampaikan alasannya dan jangan tidak disampaikan apa yang dimaksud untuk aturan tersebut.

15. Tahu membedakan mana siswa yang hanya mendengar dan yang memperhatikan sehingga bisa menyerap. Caranya adalah mendengarkan mereka yaitu memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertanya.

Ada hal-hal teknis sebagai seorang guru yang harus diperhatikan sehingga dia dapat disebut guru yang berintegritas, yaitu seorang yang “walk the talk”:
1. Jangan lambat masuk kelas.

2. Sampaikan hasil (tes, quis, ulangan) siswa dengan tidak terlalu lama dan jika ada. Kembalikan tugas-tugas murid tepat pada waktunya dengan komentar yang menguatkan.

3. Penting anak diingatkan untuk mengerjakan tugas dengan jujur. Ini karena banyak orang tua campur tangan mengerjakan tugas-tugas rumah.

4. Anak diajar untuk menghargai formalitas kelas, tanpa harus formal dan kaku dalam mengembangkan pikiran-pikiran.

Menjadi guru adalah sebuah seni, sehingga menjadi guru yang baik itu melibatkan panggilan, kemampuan intelektual dan penguasaan materi, karakter, talenta dan kemampuan berkomunikasi. Dari semua itu yang terpenting adalah kekuatan karakter.

Sumber


Share/Bookmark